Dari Meja Kayu ke Kepercayaan Publik, Cara Sunyi Polisi Menjaga Nanga Dangkan
Di sebuah warung sederhana dengan meja kayu yang mulai aus, personel Polsek Silat Hulu memilih cara sunyi untuk menjaga keamanan wilayah. Tanpa pengeras suara dan tanpa instruksi keras, polisi duduk bersama warga, membangun dialog yang jujur dan terbuka.(Sabtu, 17 Januari 2026)
Kegiatan sambang warung ini menjadi strategi humanis dalam menjaga stabilitas kamtibmas. Polisi memahami bahwa keamanan tidak selalu tercipta dari patroli bersenjata, tetapi dari komunikasi yang tulus dan kehadiran yang konsisten.
Warga yang sedang menikmati waktu santai tampak antusias berbincang dengan personel kepolisian. Dari obrolan ringan, muncul diskusi tentang kondisi lingkungan, pergaulan remaja, hingga harapan masyarakat terhadap aparat keamanan.
Personel Polsek Silat Hulu memanfaatkan momen ini untuk menyampaikan pesan-pesan kamtibmas secara persuasif. Ajakan untuk menjaga ketertiban, saling menghormati, serta segera melapor jika terjadi potensi gangguan disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Kedekatan yang terbangun membuat warga tidak ragu menyampaikan pandangan dan keluhan. Bagi polisi, informasi langsung dari masyarakat adalah aset penting dalam menjaga keamanan wilayah secara berkelanjutan.
Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mematahkan stigma bahwa polisi adalah sosok yang sulit dijangkau. Di Nanga Dangkan, polisi hadir sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat, bukan sekadar aparat penegak hukum.
Melalui pendekatan seperti ini, Polsek Silat Hulu berharap tercipta rasa saling percaya yang kuat. Ketika kepercayaan tumbuh, maka kerja sama dalam menjaga keamanan akan berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Dengan duduk di meja kayu yang sederhana, polisi dan warga membuktikan bahwa keamanan bisa dirawat dengan cara yang manusiawi. Sebuah langkah kecil yang berdampak besar bagi ketenangan Nanga Dangkan.
0Comments
Komentarlah dengan bijak